Film "Belenggu", Penantian 8 Tahun Sang Sutradara

Written By Kome land on Monday, March 4, 2013 | 4:46 PM


Jakarta - Film dengan genre thriller bisa dibilang terbatas di Tanah Air, meski begitu, itu sutradara perempuan Upi mencoba memasuki area ini dengan meluncurkan film bertajuk "Belenggu". Bersama Falcon Pictures, ia merilis film bergenre thriller dengan menampilkan pembunuh berkostum kelinci. Ini sangat berbeda dengan sejumlah film yang telah dihasilkannya, seperti "Serigala Terakhir" (2009) dan "Red CobeX" (2010).

Baginya, butuh waktu selama 8 tahun untuk bisa merealisasikan film tersebut. Ia berharap melalui film "Belenggu" ini, masyarakat akan bergairah untuk menyaksikan film-film thriller.

Penantiannya pun tidak sia-sia. Karena tahun 2012 yang lalu, "Belenggu" menjadi satu-satunya film Indonesia yang berhasil lolos seleksi untuk mengikuti kompetisi tingkat internasional 16th Puchon Internasional Fantastic Film Festival (Pifan) 2012, di Korea Selatan. Festival ini menyertakan film-film berjenis thriller, misteri, horor, animasi, dan fantasi dari 42 negara.

”Saya suka sekali genre thriller. Saya suka tokoh antagonis pakai kostum. Saya terinspirasi untuk membuat thriller setelah ia menonton film seri 'Twin Peaks' karya sutradara David Lynch waktu di SMP dulu. Sejak itulah saya merasa tertarik menggarap genre thriller. Ini film saya agak-agak mirip,” jelasnya.

Film ini bercerita mengenai orang-orang yang terbelenggu dengan masa lalunya. Karakter-karakter dalam film tersebut akhirnya membuat lingkaran yang sama dan akhirnya menghubungkan satu sama lain yang berujung pada dendam yang harus dibalas.

Cerita bermula, saat sebuah kota kecil sedang dicekam ketakutan adanya pembunuhan berantai --pembunuhnya masih berkeliaran. Penyelidikan pun dilakukan. Semua orang dicekam ketakutan dan saling mencurigai satu sama lain.

Elang (Abimana) seringkali dihantui gambaran buruk tentang pembunuhan aneh dimana pembunuhnya berkostum kelinci. Pemuda tertutup dan pendiam itu merasa bahwa sosok bertopeng kelinci itulah kunci dari segalanya.

Sedangkan Djenar (Laudya Cintya Bella), tetangga di sebelah rumah susun Elang, selalu tampak tertekan karena masalah rumah tangganya dengan sang suami (Verdi Soleman). Djenar selalu diliputi rasa ketakutan bahwa bahaya sedang mengancam jiwa dirinya dan anak perempuannya. Dan ia curiga bahwa hal itu berhubungan dengan peristiwa pembunuhan yang sebelumnya terjadi.

Cerita terus berlanjut, dan sangat rumit. Bagi pecinta film thriller, film ini dapat menjadi pelepas dahaga di tengah keringnya film-film bergenre serupa.

Gedung Tua
Selain Abimana dan Laudya Cintya Bella, artis-artis pendukung di film ini mempunya nama besar, seperti Verdi Soleman, Jajang C Noer, dan Bella Esperance. Sedangkan artis pendatang baru yang turut meramaikan film ini adalah Imelda Therine.

Sebagian besar syuting dilakukan di sebuah gedung tua di kawasan Senen, Jakarta Pusat. Di gedung berlantai empat yang jarang dipakai itu, penjara, rumah sakit jiwa, dan kantor polisi dibangun.Tempat ini juga menjadi lokasi syuting film "Radit dan Jani" (2008).

Dari awal sampai akhir film ini, penonton akan disajikan adegan-adegan yang menegangkan. Selain itu, cerita dalam film ini penuh teka-teki. Jadi, penonton tidak bisa sedetik pun berpaling dari layar bioskop, atau akan kehilangan alur ceritanya.

Dengan kualitas suara yang mumpuni, dipastikan jantung kita akan terus berdetak kencang. Film ini akan ditayangkan secara serentak di bioskop seluruh Indonesia pada 28 Februari 2013.


Anda sedang membaca artikel tentang

Film "Belenggu", Penantian 8 Tahun Sang Sutradara

Dengan url

http://householdfinancialproblems.blogspot.com/2013/03/film-penantian-8-tahun-sang-sutradara.html

Anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya

Film "Belenggu", Penantian 8 Tahun Sang Sutradara

namun jangan lupa untuk meletakkan link

Film "Belenggu", Penantian 8 Tahun Sang Sutradara

sebagai sumbernya

0 komentar:

Post a Comment

techieblogger.com Techie Blogger Techie Blogger