"Kaleidoskop" Meriahkan Kehidupan Berkesenian di Jakarta

Written By Kome land on Saturday, December 20, 2014 | 4:46 PM


Jakarta - Kaleidoskop merupakan rangkaian sejumlah peristiwa penting yang terjadi selama satu tahun. Kejadian-kejadian itu disajikan dalam bentuk penceritaan ulang secara singkat dan padat. Rasanya belum pernah ada kaleidoskop yang mereka ulang suatu kejadian. Hanya di Kaleidoskop Seni Budaya Jakarta saja, dipentaskan ulang sejumlah aktivitas seni budaya sepanjang tahun 2010 hingga 2014. Acara ini berlangsung pada 16-20 Desember 2014 di Plaza Teater Jakarta Tamain Ismail Marzuki.


Ari Batubara, salah satu kurator yang ditemui di acara tersebut menjelaskan tujuan dari Kaleidoskop Seni Budaya Jakarta adalah untuk menampilkan kembali karya-karya para seniman dalam kurun waktu lima tahun terakhir.


Ari menjelaskan semangat dari Kaleidoskop Seni Budaya Jakarta adalah memeriahkan lagi kehidupan berkesenian di Jakarta yang kini sangat metropolis. Kaleidoskop Seni Budaya ini diilhami oleh keinginan sejumlah pelaku seni untuk kembali menghidupkan tradisi yang telah lama hilang di Taman Ismail Marzuki, yaitu penyelenggaraan Festival November.


"Ingin hidupkan kembali tradisi di Taman Ismail Marzuki. Dulu ada yang namanya Festival November dalam rangka ulang tahun Taman Ismail Marzuki dengan menampilkan berbagai macam pertunjukan, temu sastra dan lain-lain. Sekarang ini yang masih bertahan hanya Festival Teater Remaja. Sebenarnya ingin memeriahkan lagi kehidupan berkesenian di Jakarta yang metropoilis," kata Ari, Jumat (19/12).


Dalam acara ini, Kaleidoskop menampilkan tiga jenis acara, yaitu pagelaran, pameran foto dan artefak atau properti yang pernah digunakan sejumlah komunitas teater yang pernah naik panggung di Taman Ismail Marzuki.


Seni pertunjukan yang tampil di Kaleidoskop Seni Budaya Jakarta telah melalui proses kurasi oleh Dewan Kurator yang terdiri atas Ari Batubara, Bambang Trihadi dan Abdullah Wong. Adapun untuk pameran foto dan artefak dikuratori oleh Sri Warso Wahono yang merupakan pelukis sekaligus kritikus seni rupa.


"Proses kurasinya kita pilih yang memiliki keunikan dan juga ada jejak tradisinya. Jadi tidak terlalu kental kontemporernya," kata Ari.


Terdapat puluhan seni pertunjukan yang dipentaskan, seperti teater, monolog, tarian, musik dan wayang. Sejumlah nama besar dari dunia pertunjukan Indonesia ambil bagian dalam acara ini di antaranya Whani Darmawan, Herlina Syarifudin, Teater Ketjil dan Kolaborasi Mahagenta.


Whani Darmawan contohnya menampilkan teater tubuh yang dijuduli Pandito In Love. Karya Whani ini merupakan adaptasi dari cerpen karya Yukiyo Mishima yang berjudul The Prince Siga Temple and His Love, yang diterjemahkan Sapardi Djoko Dharmono menjadi Sang Pendeta dan Sang Kekasih. Karya ini pernah dipentaskan Festival Asiatri Jogjakarta pada September 2014 lalu dan sebulan kemudian dibawa ke Jepang.


Pandito In Love bercerita soal seorang pendeta yang akhienya jatuh cinta pada seorang wanita. Saat si pendeta berhasil mencium tangan si putri, pendeta pun meninggal.


"Saya re-intepretasi, bagaiman ekspresi tubuh untuk menyampaikan cerita itu. Ada pemberontakan gerak,” kata Whani yang ditemui usai naik panggung.


Whani yang mengenakan jubah putih mengawali teater tubuhnya dengan gerakan lembut bersahaja, menampilkan sosok seorang pendeta. Sejurus kemudian Whani mulai melucuti jubahnya. Gerakan lembutnya berubah menjadi dinamis, cenderung meledak-ledak. Teater tubuh Whani ini berhasil menyihir penonton yang berkerumun di dalam tenda.


Adapun pameran foto menampilkan hasil jepretan sejumlah fotografer yang mengabadikan sejumlah peristiwa teater yang pernah dipentaskan Taman Ismail Marzuki. Menurut Ari, panitia sesungguhnya ingin menampilkan 185 foto. Akan tetapi, karena keterbatasan tempat, maka hanya 85 foto saja yang dipajang.


Sementara untuk artefak, Ari menjelaskan terdapat sejumlah properti teater dari sejumlah pementasan penting di Taman Ismail Marzuki. Di ataranya adalah Topeng Odipus tahun 1987, Boneka Bip Bop tahun 2004 milik Bengkel Teater Rendra. Ada pula sepada yang dipakai Slamet Raharjo dalam pementasan Dag Dig Dug karya Putu Wijaya tahun 1974.


Ari mengungkapkan bahwa kaleidoskop Seni Budaya Jakarta diharapkan bisa dibuat kembali di tahun depan.


“Harapan lainnya, dari forum ini lahir karya bermutu lagi,” tutup Ari.


Penulis: Rizka Amelia/FER


Anda sedang membaca artikel tentang

"Kaleidoskop" Meriahkan Kehidupan Berkesenian di Jakarta

Dengan url

http://householdfinancialproblems.blogspot.com/2014/12/meriahkan-kehidupan-berkesenian-di.html

Anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya

"Kaleidoskop" Meriahkan Kehidupan Berkesenian di Jakarta

namun jangan lupa untuk meletakkan link

"Kaleidoskop" Meriahkan Kehidupan Berkesenian di Jakarta

sebagai sumbernya

0 komentar:

Post a Comment

techieblogger.com Techie Blogger Techie Blogger